Panggung Indonesia Raya belakangan ini sedang menyelenggarakan pentas akbar. Tontonan bak pergelaran wayang kulit yang sarat dengan pelajaran, teladan namun juga penuh banyolan di sana-sini.
Pergelaran ini dicermati oleh banyak penonton; dengan berbagai kesukaan dan minat masing-masing. Ada yang senang dengan tokoh-tokoh wayang tertentu, ada yang suka dengan ajaran dan filosofinya, ada yang senang dengan adegan perang antara Buto Cakil dan Raden Janoko-nya, ada yang sangat suka dengan dagelannya, ada juga yang sekedar senang melihat para pesinden yang cantik-cantik dan merdu suaranya. Ada pula yang datang bukan untuk menonton wayang tetapi karena mencari peluang untuk dapat mencopet penonton yang lengah-keasyikan.
Hari berikutnya setelah pergelaran usai, di warung-warung kopi dan di tempat-tempat orang banyak berkumpul, timbul banyak forum diskusi yang seru. Topik utamanya adalah lakon yang digelar kemarin. Beberapa orang tampak bersemangat menyampaikan pendapat sesuai dengan minat dan persepsi masing-masing. Ada pula yang tak kalah bersemangat mengompori diskusi tanpa peduli alurnya. Sebagian lagi sekedar duduk dan tertawa-tawa menyaksikan adu pendapat antara para pihak yang berbicara.
Lalu, ketika mereka sudah capek berbicara, satu demi satu pulang ke rumah masing-masing dan melupakan semuanya: lakon wayangnya, pesindennya, dagelannya, kemahiran dalangnya bercerita. Dan kehidupan kembali ke kesehariannya, tak tampak adanya perubahan perilaku menjadi lebih baik, seperti pelajaran yang telah disampaikan oleh pak Dalang dalam pentas wayangnya.
Indonesia sedang sangat berhasrat untuk berubah menjadi lebih baik. Menjadi lebih beradab, seperti cita-cita sejak ketika negeri ini masih menjadi sebuah mimpi. Semua ingin keadaan yang lebih tertata, terbuka, aman, sejahtera, merdeka – bukan hanya dari penjajahan bangsa asing tetapi juga merdeka dari segala kesulitan dan ancaman, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri sendiri.
Kemelut yang muncul ke permukaan pada saat ini lakon bakunya adalah: hukum. Salah satu instrument penjaga sistem, yang mungkin sedang diterapkan oleh masing-masing organ penjaganya dengan berbagai cara dan tafsir masing-masing, dan karena fihak lain tidak ('belum') sefaham terhadap alur, tafsir dan cara memperlakukannya, sehingga kemudian timbullah pertentangan dan friksi.
Ada sebuah anekdot lama, tentang orang dusun yang kaya, datang ke kota membeli kulkas sepuluh pintu (saking kayanya) dan menggunakannya di rumah sebagai lemari pakaian moderen, yang ’lebih beradab’. Ada pula cerita tentang pispot yang digunakan sebagai wadah sayur asem, dan cawat bikinan luar negeri yang dikenakan di luar celana panjang bak Superman. Semua mereka berpandangan bahwa barang-barang tersebut adalah lambang peradaban, yang ketika digunakan maka martabat menjadi meningkat. Tetapi penerapan yang salah akan menggelikan, menyinggung martabat dan bahkan akan membahayakan bagi yang lain.
Demikian pula dengan instrument berbangsa dan bernegara yang bernama hukum. Kekeliruan penerapan berpotensi membahayakan salah satu fihak, kedua fihak, orang banyak, dan bahkan dapat menggoyahkan negeri beserta segenap isinya.
Indonesia sedang berproses. Semoga kita semua yang ada dan terlibat di dalamnya tetap menjaga keutuhan bangsa dan negara dan tetap setia kepada cita-cita kemerdekaan.
Selamat menyongsong Hari Pahlawan. MERDEKA!
.
07 November 2009
02 November 2009
Batalnya Pertandingan Tinju Nongelar
Hampir saja bogem mentah ditonjokkan ke muka, tapi keburu dipisah, bukan oleh wasit tapi oleh presenter. Beberapa jam yang lalu, saya batal menonton adu tinju nasional di televisi antara dua tokoh terkemuka.
Barangkali wacana cicak-buaya ini memang sudah sedemikian memancing emosi, sehingga kedua tokoh kita tampak sekali lepas kendali. Saya percaya itu bukan akting dalam tayangan reality show yang di akhir tayangan selalu ditambah title : Tayangan ini sudah mendapatkan persetujuan pihak-pihak yang terlibat.
Gawat juga apabila para beliau yang seharusnya arif dalam posisi harus mencerdaskan bangsa ternyata harus baku-bogem (untungnya ada yang memisah).
Sabaaaar, bapak, biarkan masing-masing bicara, beri kesempatan yang lain juga untuk bicara.
Saya lelah menyaksikan panggung peristiwa di negeri ini yang ceritanya serem melulu.
Barangkali wacana cicak-buaya ini memang sudah sedemikian memancing emosi, sehingga kedua tokoh kita tampak sekali lepas kendali. Saya percaya itu bukan akting dalam tayangan reality show yang di akhir tayangan selalu ditambah title : Tayangan ini sudah mendapatkan persetujuan pihak-pihak yang terlibat.
Gawat juga apabila para beliau yang seharusnya arif dalam posisi harus mencerdaskan bangsa ternyata harus baku-bogem (untungnya ada yang memisah).
Sabaaaar, bapak, biarkan masing-masing bicara, beri kesempatan yang lain juga untuk bicara.
Saya lelah menyaksikan panggung peristiwa di negeri ini yang ceritanya serem melulu.
29 Oktober 2009
The Killing-field

Untuk ke sekian kalinya, saya sampaikan kepada Anda sekalian bahwa saya merasa ngeri melihat perilaku sebagian (besar) pengguna jalan raya.
Main potong jalur secara tiba-tiba, bersilambat di lajur yang tanggung posisinya dan beberapa perilaku berisiko lainnya.
Kecelakaan yang berakibat kerusakan kendaraan, luka ringan, luka berat, cacat tubuh bahkan kematian, rupanya sudah bukan menjadi hal penting. Karena barangkali kita sudah dibuat kebal oleh segala macam pemberitaan di hampir semua media, lengkap dengan tayangan foto dan videonya. Tubuh yang tergeletak bersimbah darah, hancur berceceran, kendaraan ringsek berkeping-keping luluh-lantak. Tayangan tersebut mungkin hanya dalam bilangan detik mampu memancing emosi kita, dan lalu sesaat kemudian lewat dari ingatan.
Segala pemasangan rambu, penataan lajur jalan, perbaikan fisik permukaan jalan tidaklah cukup. Demikian pula dengan segala perbaikan tatacara administrasi untuk mendapatkan SIM maupun legalisasi dokumen kendaraan. Semua itu nyaris tidak berdampak pada perilaku seseorang berkendara.
Bahkan pengaturan pemakaian helm dan sabuk keselamatan, menyalakan lampu depan bagi kendaraan roda dua (R-2) di siang hari serta wajib lajur kiri bagi R-2 seakan hanya sebuah karnaval musiman, atau bahkan pesan sponsor yang lebih menonjol sponsornya ketimbang pesannya.
Mungkin sudah waktunya 'kekejaman' dilakukan oleh Yang Berwajib, dengan lebih aktif menindak pelanggaran yang berpotensi menjadi kecelakaan, sebelum terlambat dan nantinya jalanan berubah menjadi killing-field, di mana bukan saja etika diabaikan, tetapi hukum rimba yang dijalankan di depan mata, dengan manusia menjadi pelaku dan sekaligus calon korbannya.
Peran media?
Menayangkan sebuah kejadian kecelakaan sebagai 'hanya' sebuah berita (dengan segenap detilnya) patut dievaluasi kembali, dan untuk ini barangkali misi pemberitaan perlu dikaji ulang agar publik tidak sekedar mendapatkan informasi akan tetapi mampu menyerap nilai yang terkandung dalam berita yang dibaca dan ditonton, untuk kemudian memperoleh 'pencerahan', meskipun sekedar tentang berlalu-lintas yang etis.
Banyak faktor yang menjadi pendorong dan pemicu keganasan berlalu-lintas. Jadwal kerja, cuaca, kondisi jalan, pemakai jalan yang lain dan hal-hal lainnya. Tentu sangat dimaklumi, namun rasanya tidak dapat ditoleransi apabila hal-hal tersebut kemudian digunakan sebagai alasan yang mendorong timbulnya sikap 'lu kaga penting, urusan gua yang nomer satu'.
Semoga kita tidak pernah akan menjadi korban, apalagi berpikir untuk menjadi pelanggar etika dan aturan lalu-lintas, agar jalanan kita tidak menjadi the Killing-field.
.
27 Oktober 2009
Reposisi
Banyak komentar. Riuh di kantin, di sudut ruang kerja, di lobby, di klinik bahkan di dalam mobil ketika dalam perjalanan dinas. Penyebabnya ? Biasa. Mutasi di pucuk organisasi.
Para komentator saling mengemukakan pandangannya terhadap tokoh baru yang muncul, tokoh lama yang bergeser posisi, dan tokoh lama yang terlempar ke luar dari jajaran pimpinan.
Berbagai cerita tentang sebab-musabab seseorang terpilih atau gagal dilantik menjadi pemimpin banyak dipaparkan dalam pembicaraan di luar forum-forum resmi. Termasuk latar-belakang dan masa lalu para selebriti lokal tadi. Berbagai versi yang berasal dari berbagai fihak dapat didengar, beserta bumbu-bumbu penyedapnya yang terkadang menjadi penambah 'serem' atau 'bening' profil seseorang. Tergantung pembicaranya condong berfihak kepada tokoh yang mana.
Lalu pembicaraan akan juga menyentuh kelanjutan organisasi. Masa depan, pasca reposisi pimpinan.
Akankah keadaan kemudian berubah cerah seperti matahari pagi hari sehabis hujan, atau akan menjadi berkabut dan penuh debu?
Atau bahkan perjalanan organisasi akan menjadi lebih terseok-seok lagi dari sebelumnya, disertai duka-lara dan sesal tak terhingga akibat pemilihan pemimpin yang ternyata tidak fit dan tidak proper.
Masa-masa penyesuaian segera berlangsung. Dimulai dengan pengenalan multi arah, atas-bawah dan samping-menyamping. Kemudian evaluasi berdasar pengamatan sekilas tentang potensi dan kompetensi masing-masing yang terlibat. Dilanjutkan dengan perakitan visi-misi-program dan seterusnya yang dimulai dari kelompok kecil kemudian berlanjut ke kelompok-kelompok besar masing-masing.
Dan seterusnya.
Proses yang berlangsung tentu bertujuan untuk dapat menghasilkan keadaan yang lebih baik. Perbaikan suasana dan hubungan antarpribadi, kesejahteraan dan rasa aman.
Apakah proses yang terjadi akan menghasilkan sesuatu yang mengarah kepada harapan semua fihak, yaitu: peningkatan harkat dan martabat?
.
Para komentator saling mengemukakan pandangannya terhadap tokoh baru yang muncul, tokoh lama yang bergeser posisi, dan tokoh lama yang terlempar ke luar dari jajaran pimpinan.
Berbagai cerita tentang sebab-musabab seseorang terpilih atau gagal dilantik menjadi pemimpin banyak dipaparkan dalam pembicaraan di luar forum-forum resmi. Termasuk latar-belakang dan masa lalu para selebriti lokal tadi. Berbagai versi yang berasal dari berbagai fihak dapat didengar, beserta bumbu-bumbu penyedapnya yang terkadang menjadi penambah 'serem' atau 'bening' profil seseorang. Tergantung pembicaranya condong berfihak kepada tokoh yang mana.
Lalu pembicaraan akan juga menyentuh kelanjutan organisasi. Masa depan, pasca reposisi pimpinan.
Akankah keadaan kemudian berubah cerah seperti matahari pagi hari sehabis hujan, atau akan menjadi berkabut dan penuh debu?
Atau bahkan perjalanan organisasi akan menjadi lebih terseok-seok lagi dari sebelumnya, disertai duka-lara dan sesal tak terhingga akibat pemilihan pemimpin yang ternyata tidak fit dan tidak proper.
Masa-masa penyesuaian segera berlangsung. Dimulai dengan pengenalan multi arah, atas-bawah dan samping-menyamping. Kemudian evaluasi berdasar pengamatan sekilas tentang potensi dan kompetensi masing-masing yang terlibat. Dilanjutkan dengan perakitan visi-misi-program dan seterusnya yang dimulai dari kelompok kecil kemudian berlanjut ke kelompok-kelompok besar masing-masing.
Dan seterusnya.
Proses yang berlangsung tentu bertujuan untuk dapat menghasilkan keadaan yang lebih baik. Perbaikan suasana dan hubungan antarpribadi, kesejahteraan dan rasa aman.
Apakah proses yang terjadi akan menghasilkan sesuatu yang mengarah kepada harapan semua fihak, yaitu: peningkatan harkat dan martabat?
.
21 Oktober 2009
Doeloe
.jpg)
Di gedung yang ada gambarnya mirip cap rokok djisamsoe ini dulu aku pernah sekolah.
Sayang sekarang ditembok tinggi, digerbangi tinggi juga, sehingga aku tidak bisa melihat bangunan 'bersejarah' ini secara utuh.
Agak kecewa juga sih.
Dulu di sana ada dua pohon palem kembar, persis mengapit tangga depan. Tangki air? Nggak ada. Juga kabel-kabel yang merentang semrawut itu.
Siang sepulang sekolah dan sesudah makan, aku suka main di sana. Halamannya bersih berpasir.
Jauh-jauh aku datang untuk napak-tilas bersama anak-anak, ternyata yang terlihat cuma tembok dan sebagian atap. Masih lumayan cap BALE MANDALA itu tetap ada.
Ya sudah, mau apa.
.
Langgan:
Entri (Atom)
